Art

EBOOK GEOFISIKA PDF

Otomatisasi pengukuran dan pemrosesan model-model fisis geofisika by Muhammad Irham Nurwidyanto, , Jurusan Fisika, Fakultas. Priyobudi, ST. Sumber substansi: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika – BMKG. Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional – BAKOSURTANAL. Paper Geofisika – Download as Word Doc .doc /.docx), PDF File .pdf), Text File .txt) Mahasiswi Program Studi Geofisika UNHAS .. eBook Meterologi Dasar.

Author: Malarn Malajar
Country: Senegal
Language: English (Spanish)
Genre: Politics
Published (Last): 4 October 2010
Pages: 370
PDF File Size: 17.91 Mb
ePub File Size: 2.57 Mb
ISBN: 467-2-42167-596-4
Downloads: 59162
Price: Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader: Maulmaran

Pernah main game SEGA??

Otomatisasi pengukuran dan pemrosesan model-model fisis geofisika

Pasti kenal dengan karakter diatas Berlari secepat gelombang suara. That’s why it called Sonic The Hedgehog: D Saya akan melanjutkan cerita tentang bagaimana menginterpretasikan data log, khususnya wireline log. Nah, kali ini saya akan bercerita tentang Log Sonic, juga sering disebut dengan Log Akustik.

Mengapa disebut Log akustik? Oke, sebelum kita berbicara lebih banyak tentang Log Sonic, mari kita kenali dulu Apa itu gelombang akustik. Gelombang akustik adalah sebuah getaran yang merambat yang bersumber feofisika getaran mekanik dan merambat pada sebuah medium.

Log Sonic memakai prinsip kerja gelombang akustik, yaitu dengan memancarkan pulsa mekanik dengan jangkauan kHz dengan panjang gelombang 7,5 sampai 75 centimeter dalam jangkauan kecepatan sampai meter per sekon. Itulah mengapa Sonic The Hedgeog dinamai dengan “Sonic”??? Bagaimana alat log Sonic bekerja? Sistem pemancar gelombang sonic dari alat log sonic ini merupakan sebuah komponen magnetostriktif atau yang lebih sering digunakan adalah piezoelektrik.

Dimana saat pulsa listrik dialirkan akan dikonversi oleh unit pemancar menjadi sebuah getaran ultrasonik. Dengan demikian gelombang akustik akan ditransmisikan kepada dinding lubang bor dengan kecepatan rambat eobok medium yang beragam, oleh karena itu akan ada perbedaan dalam penetrasi pada berbagai medium -dalam hal ini adalah batuan. Sementara itu, sistem penerima receiver adalah sebuah perangkat piezoelektrik yang dapat mengkonversi gelombang pressure menjadi signal EM dan kemudian di amplifikasi untuk memperjelas sinyal loging.

Nah, dengan mentransmisikan gelombang akustik dan kemudian menangkapnya kembali, para teknisi logging dapat menghitung jeda waktu antara signal dipancarkan dengan sinyal ditangkap, dimana nanti akan lebih banyak disebut dengan istilah DELTA T.

Dengan mengetahui Delta T, geofisija teknisi loging dapat menghitung kecepatan rambat gelombang akustik pada medium tersebut. Setelah dapat kecepatan ranbat bla bla bla, lalu digunakan untuk apa? Nah, setelah proses loging selesai, dan hasil perhitungan kecepatan rambat gelombang akustik didapat, maka kita dapat melakukan estimasi porositas berdasarkan beberapa konsep yang telah dikembangkan. Salah satunya adalah Konsep yang dikembangkan oleh Pak Wyllie dan kawan-kawannya pada tahun Pak Wyllie mengembangkan suatu konsep bahwa keberadaa pori akan mempengaruhi variasi kecepatan rambat gelombang akustik pada medium tersebut, terlebih lagi jika terdapat fluida yang mengisinya.

Konsep ini geofisija diturunkan dalam persamaan matematis seperti ini: Untuk penentuan nilainya, metode yang diterapkan pada pembahasan sebelumnya Log Densitas dan Log Neutron bagian kedua dapat diterapkan pada Log Sonic. Nah, dari cerita diatas kita dapat membayangkan bagaimana log sonic bekerja dalam lingkungan lubang bor hingga kemudian dihitung menjadi nilai porositas. Namun perlu diingat, bahwa semua perhitungan atau apapun yang sifatnya kuantitas dalam menghitung nilai parameter petrofisika sejatinya adalah sebuah estimasi.

Terdapat perambatan error juga, apabila parameter yang digunakan untuk proses perhitungannya terdapat kesalahan, maka tentusaja hasil yang didapat juga perlu ditinjau ulang. Dan selalu, untuk para petropisisis atau geosaintis yang berkutat dan tertarik pada bidang ini, perlu ditanamkan bahwa data yang terbaik dalam geogisika penelitian eksplorasi dan produksi Migas tentunya adalah data core dari sumur yang sudah berproduksi: Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang interpretasi log densitas dan log neutron.

Sekedar mengingatkan, mengapa saya menggabungkan kedua log ini dalam satu tulisan. Pertama, karena prinsip kerja alat log ini dalam akuisisi menggunakan komponen yang sama, yaitu radioaktif. Yang kedua, karena umumnya kegunaan log ini adalah saling melengkapi dalam estimasi nilai porositas suatu reservoir migas: D Mari kita lanjutkan. Nah, pada tulisan sebelumnya saya banyak membahas mengenai konsep dasar, prinsip kerja alat dan sedikit tentang interpretasi kasar dan kualitatif, pada bagian kedua ini saya akan menambahkan sedikit tentang interpretasi, namun lebih ke arah kuantitatif.

  BAXEVANIS BIOINFORMATICS PDF

D So, brace yourself for the Equations!!! Baiklah, untuk geifisika mari kita ingat-ingat lagi rumus dasar geofidika. Eh sebentar, apa itu porositas? Porositas adalah bagian dari volume batuan yang tidak terisi oleh benda padat. Adi Harsono, Nah, sederhananya porositas itu dapat diperoleh dari selisih antara volum total bulk – Vb terhadap volum butir grain – Vgr -benda padatkarena biasanya geoflsika orang perminyakan lebih suka menilai porositas sebagai prosentase jadi kita bisa menyimpulkan bahwa porositas adalah rasio antara volume pori terhadap volume total, yang mana volume pori Vp tersebut adalah selisih yg kita bahas sebelumnya.

Pasti sering liat persamaan ini kan? Gsofisika, dari sekian banyak rumus untuk menghitung porositas, mari kita coba bahas sedikit tentang rumus Porositas mulai dari log densitas, log neutron sampai kombinasi log densitas dan log neutron.

Rider, Nah, kita dapat simpulkan bahwa untuk mendapatkan nilai porositas, perlu diketahui densitas matriks single matrix, double matrix atauh bahkan multiple matrix dan kemudian densitas fluida. Dengan demikian kita dapat mengaplikasikan persamaan dari buku Pak Rider diatas georisika mengestimasi nilai densitas batuan reservoir yang akan kita teliti. Densitas Matrix itu apa sih? Keanu Reeves itu bukan?

Terus bagaimana cara dapet nilai Densitas Matriks itu? Nah, ini yang agak tricky Untuk menentukan nilai matriks kita bisa menggunakan pendekatan petrologi, dalam ebkok ini kita harus punya eook batuan tersebut dan kemudian melakukan analisis ebooo agar kita dapat melihat mineral apa saja yang mengisi batuan tersebut. Dengan mengetahui jenis-jenis dan ebool dari mineral-mineral tadi, kita dapat mengestimasi nilai densitas rerata dari berbagai macam mineral tersebut secara proporsional.

Ada juga cara lain, yaitu menggunakan metode Crossplot.

Metode crossplot ini lebih praktis dalam analisisnya, namun banyak terdapat bias dan membutuhkan insting dan pemahaman yang kuat. Metode crossplot adalah pengambilan nilai dari suatu parameter berdasarkan dua atau lebih parameter yang berhubungan dan saling disilangkan. Untuk menentukan tingkat kematangan buah mangga yg baik, kita harus mencocokkan antara ukuran buah, warna kulit, kekerasan buah, dan aroma yg tercium.

Nah, jika semua mencapai kriteria maka dapat disimpulkan buah tersebut matang dengan baik. Jika kita ambil contoh praktek dari metode crossplot dalam penentuan densitas matrix atau fluida, maka parameter yg digunakan bisa saja: Dalam hal ini kita mengambil contoh: Nah, jika ebook parameter tersebut terpenuhi maka, nilai yg didapat pada crossplot bisa dianggap nilai yg sesuai panah merah. Porositas dari Log Densitas dan Log Neutron Dalam beberapa kesempatan saya membaca beberapa literatur dan tulisan ilmiah yang menggunakan metode kombinasi log densitas-neutron untuk mengestimasi nilai porositas.

Hal ini dikarenakan adanya kesalahan relatif dalam penentuan porositas dari log densitas, alhasil sebagian ilmuwan percaya geofisikq dengan mengkombinasikan kedua log ini, dapat diperoleh estimasi yang lebih baik. Handbook kuliah GMB Namun selain persamaan diatas, masih banyak metode kombinasi log densitas dan log neutron, seperti yang dikembangkan oleh Bateman dan Konen tahun Well, maafkan jika terlalu lama vakum menulis blog lagi.

Saya mau sedikit cerita curcol tentang pengalaman saya dalam beberapa waktu terakhir. Mungkin sudah banyak yang tau jika background pendidikan saya adalah Geofisika, yap. Mereka bertiga saling bekerja bersama dan berkaitan satu sama lain. Nah, selama saya menempuh pendidikan S1 saya seringkali ‘bergaul’ hanya dengan Geologis kebanyakan karena selama ini saya banyak fokus dalam bidang eksplorasi, padahal sudah jelas jika lingkup studi Geofisika itu sangat luas, mulai dari studi gunungapi hingga studi referensi dalam bidang geodetik.

Kita ketahui bersama, jika metode gravitasi atau Gayaberat adalah salah satu metode geofisika yang banyak digunakan dalam bidang eksplorasi maupun bidang kegeofisikaan lainnya. Selama ini yang saya pelajari adalah penggunaan metode tersebut untuk geofisia eksplorasi panasbumi, mineral, migas hingga monitorin status kegunungapian dan panasbumi. Dalam beberapa kesempatan, metode Gravitasi juga seringkali digunakan dalam studi tektonisme dan geologi geofisikz.

Namun, beberapa waktu terakhir ini saya baru mengetahui jika penggunaan metode Gravitasi tidak hanya terbatas dalam bidang-bidang diatas, namun juga digunakan dalam penentuan ketinggian geoid.

Secara sederhana sistem referensi tersebut sangat berbeda. MSL Mean sea level adalah sistem referensi yang banyak dipakai dalam penentuan ketinggian gunungapi.

Blog Dwi Noviyanto

Ketinggian Gunung Merapi adalah MDPL -meter diatas permukaan laut- ,dalam hal ini sudah pasti adalah ketinggian diatas muka air laut rata-rata. Padahal sudah kita ketahui bahwa muka air laut adalah suatu sistem yang sangat dinamis, walaupun perubahannya bekerja secara harmonik.

  ENFERMEDAD INFANTIL DE REFSUM PDF

Sistem referensi lain yang kita ketahui adalah Elipsoid Elipsoid -sama saja. Elipsoid adalah suatu bidang referensi, nilai nol meter yang berada pada sistem ‘ke-elips-an’ bumi, dalam arti bumi dalam bentuk elips sempurna atau “Normal Earth” hal ini disebutkan dalam paper Li dan Gotze, Sistem referensi elipsoid dapat dihitung dan dimodelkan secara matematis diseluruh permukaan bumi dengan menggunakan studi empirik. Ilustrasti beberapa sistem referensi bumi Li dan Gotze, Sistem referensi satu lagi adalah Geoid.

Geoid dalam beberapa tulisan dideskripsikan sebagai suatu bidang ekipotensial yang diasumsikan berimpit dengan muka laut rerata yang tidak terganggu dan merepresentasikan bentuk bumi yang sesungguhnya Heiskanen dan Moritz, Maksudnya adalah ‘garis’ geoid ini adalah kontinyu dan merupakan bidang yang statis namun juga tidak selalu berkaitan dengan keadaaan di permukaan bumi. Geoid di pegunungan tidak selalu lebih tinggi dibandingkan geoid di dataran rendah, begitupun sebaliknya.

Oleh karena itu saat ini banyak yang melakukan studi tentang geoid sebagai sistem referensi yang ‘valid’ karena dianggap lebih mewakili bentuk bumi yang sesungguhnya terlepas dari apa yang terlihat di permukaan.

Perbedaan ketinggian antara Geoid dan Elipsoid ini dikenal sebagai Undulasi. Sehingga, untuk mengetahui ketinggian Geoid kita perlu mengetahui besarnya undulasi tersebut. Nah, salah satu caranya adalah dengan menggunakan metode Gravimetri Pada tulisan ini saya tidak akan membahas Metode Gravimetri lebih jauh ya: Lain halnya Metode Gravitasi dalam bidang Geofisika, anomali yang digunakan dari pengukuran Gravitasi nya pun berbeda, dibidang eksplorasi maupun monitoring kita gunakan anomali Bouguersedangkan untuk studi geoid ini, kita hanya cukup sampai mendapatkan nilai anomali Free-Air.

Gravitasi observasi adalah nilai gravitasi yang didapat dari pengukuran dengan menggunakan Gravimeter yang diukur diatas permukaan bumi, di topografi. Sedangkan Gravitasi teoritis adalah nilai gravitasi dari hasil perhitungan matematis geopotensial dengan menjumlahkan Nilai gravitasi normal diukur dari elipsoid dan kemudian gravitasi free air. Dalam hal ini Pak Bouguer mencetuskan sebuah teorema mengenai sebuah besaran densitas yang sangat mempengaruhi nilai gravitasi, yang kemudia dibuat dalam bentuk model Slab tak terhingga dengan densitas yang tetap.

Pemodelan gravitasi teoritis akan lebih kompleks lagi dibahas dalam bidang geofisika, lengkap dengan segala macam koreksi koreksinya. Nah, berhubung dalam bidang Geofisika Eksplorasi ini berkaitan dengan benda anomali yang disinyalir adalah sumber anomai gravitasi maka diperlukan semua koreksi-koreksi reduksi nilai tersebut untuk mendapatkan harga anomali gravitasi yang lebih teliti.

Persamaan reduksi free air gravity Telford, Persamaan gravitasi Bouguer Sederhana Dermawan, Lain halnya dalam bidang geodesi, Setelah pengukuran gravitasi dilakukan, maka koreksi yang perlu dilakukan tentunya setelah melakukan koreksi terhadap gravitasi pasut dan drift alat adalah koreksi terhadap gravitasi normal saja.

Karena dalam kajian ini tentunya yang kita cari bukanlah penyebab anomali, melainkan ketinggian undulasi yang mana akan berkaitan dengan nilai anomali gravitasi Free-Air yang terukur di permukaan. Nilai Gravitasi Free-Air sendiri secara sederhana adalah suatu nilai gravitasi yang secara teoritik dapat dihitung pada suatu titik diatas permukaan bumi di topografi tanpa memperhitungkan densitas yang ada dibawahnya, dengan kata lain, nilai gravitasinya hanya berdasarkan radius dari pusat bumi saja.

D Jika disimpulkan secara singkat, Pengunaan Metode Gravitasi dalam bidang Geofisika memiliki perbedaan dengan Geodesi jika dilihat dari segi pengolahan data dan penentuan nilai anomali yang diinginkan. Namun, dalam akuisisi data keduanya dilakukan dalam metode yang sama: D Sekian dulu ya, nanti kapan-kapan mungkin saya akan bahas tentang ini lagi: Tulisan yang saya baca: Buku Magis Pak Telford: Setelah sekian lama nggak nulis di blog ini, saya mau melanjutkan cerita saya tentang bagaimana dasar-dasar seorang geosaintist melihat dan menerjemahkan data log wireline log.

Sebelumnya saya sudah bercerita sampai ke Log Tahanan jenis atau Log Resistivitas.